“Jangan diladeni, Kak. Dia sudah banyak korbannya!” Tuti berteriak dari kursi
belakang saat aku selesai membacakan surat cinta penjaga wartel sekolah.
“Kamu
juga korbannya?” tanyaku, membuat wajahnya bersemu merah.
“Bukan
aku, Kak,
tapi teman sekamarku. Dia pernah cerita kalau bapak itu mantan pacarnya,” jelas Tuti.
Terus terang,
aku kerap bertemu lelaki itu.
Rudy, begitu dia menulis namanya di selembar
surat cinta yang dia kirimkan untukku, surat yang dia tulis pada kertas setruk wartel. Huh! Cowok kece kok nggak mau keluar modal! :-P
“Iya, Kak. Dia itu playboy,” tambah Imah. “Emang
nggak bisa ketemu cewek tuh orang. Semua
cewek pasti pernah dia digodain. Setelah itu, cewek-cewek itu dicuekin lalu ditinggal
begitu saja,” lanjut Imah tanpa menyebut
siapa saja yang telah lebih dulu menjadi korbannya.
Mendengar berbagai kisah jelek tentang si pengirim surat cinta itu, aku
semakin geram kepadanya. Aku nggak akan tinggal diam. Aku
harus kasih dia pelajaran. Emangnya
dia pikir aku cewek apaan? Emangnya
dia siapa, sok nembak aku?
“Akan kubalas suratnya ini!” putusku. Sontak, teman-teman sekelasku mengernyitkan kening tak
percaya.
“Loh, apa maksud Kakak?
Kakak akan membalas surat cinta dari cowok
playboy itu? Yang bener aja, Kak. Kakak
suka dia?” Ain, sahabatku, tak percaya dengan jawabanku.
“Siapa bilang aku
suka? Dia
‘kan selalu mempermainkan wanita. Jadi, sekarang
kita harus
balik
mempermainkannya,” jawabku
mantap. Walau sedikit ragu,
akhirnya teman-teman juga sepakat dengan ide gilaku. Ya, kami akan membalas surat cintanya.
Perlahan-lahan,
kami
memulainya dengan bersama-sama merangkai surat balasan untuk surat
cintanya. Aku, yang
sebenarnya tidak pernah menulis surat cinta sebelumnya, cukup kesulitan untuk
membuatnya. Untunglah, di kelas
ada Wiwien yang sudah berpengalaman gonta-ganti
pacar. Ups! He he he ….
Praktis, dari dialah
kami bisa merangkai banyak kata untuk membuat
surat balasan, surat cinta dari ketua OSIS. Cie-cie ....
Kini, balasan surat cinta telah aku siapkan dengan sampul
berwarna merah muda bergambar bunga mawar bertangkai dua dan kertas surat yang
aku dapatkan dari Wiwien (ah, ternyata aku juga nggak keluar modal. :-D ) yang
beraroma parfum. Tak lupa, aku selipkan kata “balas” di
paling bawah surat, lalu
melipatnya dengan rapi.
Niatku memang sudah
bulat. Aku
juga akan mempermainkannya.
Sesuai rencana, aku akan memberikan surat ini sendiri kepadanya, sebagaimana dia memberikan
langsung surat cintanya kepadaku
saat aku ke wartelnya. Seperti halnya dia, cukup mudah juga bagiku untuk
menyerahkan surat ini kepadanya. Saat
aku melintas di depan wartel di samping gerbang sekolahku, dia sudah berdiri di samping KBU¾kamar bicara umum. Tanpa
ragu, aku serahkan suratku begitu saja dengan disaksikan teman-teman sekelasku.
Tanpa menunggu esok, suratku sudah terbalas pada jam istirahat. Rudy tidak lagi menggunakan kertas setruk wartel seperti kemarin. Kali ini, dia menuliskannya pada selembar kertas surat berwarna biru bergambar seorang lelaki dan
perempuan cantik dengan kata-kata mutiara di dalamnya. Aku pun langsung saja membacanya
di depan kelas dengan diselingi
gelak tawa dari teman-teman.
“Balas, Kak! Balas!” seru mereka sembari berebutan membantuku menyiapkan balasan
berikutnya.
Gara-gara itu, jadilah kami
pacaran tanpa perasaan. Pacaran dengan gaya anak pesantren, yang hanya saling berkirim surat tanpa bicara apa pun saat ketemu. Parahnya lagi, ini bukan pacaran biasa, tetapi pacaran dengan penjaga wartel
sekolah. Oh my goodness!
Surat-menyurat
masih berlangsung di antara
kami, dengan tulisan yang entah apa
maksudnya. Intinya ya sayang, cinta, kangen, atau apalah itu, yang semuanya dikemas dalam tulisan berlembar-lembar.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kemampuannya menulis surat cinta
sebegitu banyaknya. Dalam hati,
aku mengakui kelihaiannya dalam membuai
hati para wanita. Jadi, wajar
saja kalau
banyak wanita sampai klepek-klepek dengan kata-katanya. Habisnya, kata-katanya manis,
pakai banget pula. Cuih! Namun, aku tidak boleh terlampau dalam
dengannya. Cukup dengan
surat-suratan saja. Sebab, dia
itu playboy. Kata itulah yang selalu terngiang di
benakku.
Setiap pagi,
dia berdiri di depan wartel dengan senyum yang selalu tersungging, menunggu aku datang bersama balasan surat cintaku. Seperti biasa, aku pun menyerahkan surat balasan dengan
senyum yang juga dibuat-buat. Teman-teman sudah mengerti. Setelah aku sampai di kelas, kami
pasti cecikikan karena
aktingku yang bagi mereka begitu sempurna.
Entah,
ini surat yang keberapa. Aku
lupa menghitungnya. Namun,
semua suratnya selalu aku
simpan rapi di lemari kamarku. Kali ini,
aku sudah
kehabisan bahan
untuk membalas suratnya. Syukurlah, Wiwien tidak mati ide. Diserahkannya surat cinta dari kekasihnya kepadaku. Dengan surat
itulah, aku menyalin keseluruhan isinya tanpa mengubahnya sama sekali, kecuali nama
pengirimnya. Ha ha! Terserah, mau nyambung atau tidak, itu tidak
penting. Yang penting, aku sudah membalas surat cintanya dengan
bahasa yang juga membuai.
Namun, tidak
seperti biasanya, kali ini setelah menerima suratku
dia menghilang begitu saja. Tidak
cepat membalas. Bahkan, sampai hampir bel pulang
berdering, aku belum mendapatkan surat balasan darinya. “Tumben ya?” ungkapku kepada
Wiwien.
“Ah, tunggu saja, Kak. Paling sebentar lagi akan datang balasannya,” tanggapnya seraya
tertawa.
Namun, sampai
bel pulang berdering,
surat balasannya tak kunjung datang. Saat aku keluar dari gerbang sekolah
melewati wartelnya,
bayangannya pun tak tampak. Bahkan, esoknya dia juga tidak ada di tempat. Padahal, biasanya dia menyambutku dengan senyumannya.
“Ah, kemana ya,
orang itu?” gumamku. Entahlah, ini hari keberapa dia tak
terlihat di tempat itu. Wartel tetap buka, tetapi
operatornya orang yang berbeda.
“Kok Rudy nggak pernah terlihat lagi ya, Kak?
Dia
ke mana ya?” Rupanya, pikiran
Wiwien sama denganku.
“Iya,
ya? Ke mana ya? Aku sudah lama nggak
baca suratnya juga nih,” timpal Zubed.
Aku hanya tersenyum kecut tanpa berkata apa pun. Entah kenapa, ada yang berbeda dengan
perasaanku. Entah sejak kapan aku mulai merasa sepi tanpa surat bualannya untukku. Aku mulai merasa ada yang
kurang tanpa senyum palsunya di depan wartel yang selalu menyambutku setiap
pagi. Ah, gila! Mikirin apa sih aku ini?
Hingga lebih
dari
sebulan aku tak
mendengar kabar apa pun
darinya. Akibatnya,
aku
jadi mulai terbiasa
tanpa kehadirannya, meski sejujurnya dalam hatiku ada yang hilang rasanya.
Suatu siang, aku mendapat panggilan dari kantor tata usaha (TU). Aku pun bergegas menuju ke kantor itu, menemui seorang karyawan TU yang sedang asyik mengetik.
“Bapak panggil saya?”
tanyaku
“Ya, itu ada kiriman untukmu,” sahutnya
sambil menunjuk sebuah amplop berperangko. Kubaca nama pengirimnya: Rudiansyah. Hah? Rudy? Benarkah?
Berbinar-binar aku menerima suratnya. Entah kenapa, kali ini aku begitu senang
mendapatkan suratnya. Rasanya,
aku ingin jingkrak-jingkrak di depan karyawan TU.
Untung saja aku masih
sadar diri. He he ….
“Dari siapa?” tanya karyawan TU
yang tetap duduk di atas kursinya.
“Abangku, Pak. Makasih
ya,” ucapku sambil berlalu setelah mengucapkan
salam.
Begitu keluar dari ruang TU,
aku tidak langsung menuju kelas untuk
membacanya di depan teman-teman sekelas. Namun, aku
memilih menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Berbagai macam perasaan
berkecamuk dalam hatiku. Aku tidak mengerti dengan
perasaanku sendiri dan apa yang
terjadi padaku. Kenapa aku begitu senang dan deg-degan?
Pelan-pelan,
aku membuka sampul amplop berwarna putih itu yang ditempeli
sehelai perangko lima ribu.
Aku pun
membukanya secara
perlahan, seolah tak ingin menyobek amplopnya. Lalu, aku membacanya
dengan penuh perasaan.
Untuk Adindaku …
Maaf, aku tidak
membalas suratmu. Setelah aku terima suratmu,
waktu itu aku juga
terima kabar kalau nenekku
meninggal. Aku langsung pulang tanpa sempat membalas suratmu. Maafkan aku.
Sebenarnya aku ingin memberi kabar, tapi aku tidak tahu bagaimana mengabarimu saat itu.
Aku langsung pulang karena di sana
keluarga sudah menungguku.
Mungkin, masih cukup lama aku di rumah.
Semoga kau selalu dalam keadaan sehat dan ceria seperti senyummu yang selalu
ingin aku lihat.
Sungguh, aku merindukanmu.
Dariku,
Rudy
Ah, untuk kali pertama ada yang terasa dingin di hatiku.
Suratnya kali ini cukup pendek saja, tanpa kata-kata sastra yang biasanya
sampai tak bisa kupahami apa maksudnya. Kata-katanya sederhana, tetapi
cukup menyentuh jiwa. Hatiku pun
berbunga-bunga penuh makna.
Aku lantas melipat
kembali suratnya,
menyembunyikannya di dalam saku rok panjangku, dan
bergegas kembali ke dalam kelas.
“Ada apa, Kak? Siapa
yang panggil Kakak?” tanya Zubed setibaku di kelas.
“Pak Taufik. Beliau
hanya mau
tanya soal kegiatan OSIS besok,” jawabku agak gugup.
Ah, untuk pertama kalinya aku berbohong soal surat Rudy kepada teman-temanku. Kurasakan
pipiku hangat menahan malu di hadapan teman-temanku. Aku tak tahu apaka mereka merasakan ada yang aneh padaku atau tidak. Yang
jelas, telah terjadi sesuatu yang tidak
biasa padaku. Entah apa itu.

hihi
ReplyDeletePengalaman siapa cikgu
ReplyDelete